Berlatih Kemandirian #Part2

Kemandirian bukan tentang usia.

Saat anak-anak kita belajar kemandirian dari belum dapat berjalan, berjalan hingga berlari tanpa bantuan orang lain. Namun tanpa sadar terkadang kita berhenti belajar tentang kemandirian dan mulai bergantung pada orang lain. Hingga menjadi tua tanpa pernah memiliki kemandirian.

 

Mari melanjutkan tentang curahan hati calon ibu ini, halah… maksudnya curcolan saya (bahasa kekinian)…

Ngawi, 15 Juli 2017

Sesampai di Ngawi, tentunya setelah istirahat saya melihat ibu membuat jamu untuk salah seorang saudara yang sakit. “Saya mau belajar buat jamu juga ah” batin saya.

Prosesnya hampir seperti membuat dodol, hanya kali ini harus mengkristal hingga menjadi bubuk. Hmm,,, agak sulit meski saya yakin bisa.

Jadi ingat pertama kali masuk dapur ini, saya diminta menggoreng keripik pisang. Saya berdebar luar biasa, masak yang wajar-wajar saja (menurut saya masak makanan sehari-hari seperti sayur sop, bayam, dll) saya masih perlu melihat resep. Lah ini, bismillah coba saja. Alhasil, gorengan pertama gosong. Hingga ibu akhirnya turun tangan mencontohkan. hahaha,, maluuuu… tapi kalau tidak seperti itu mana bisa belajar.

Selanjutnya saya ingin belajar membuat sambal pecel dari ibu. Sambal pecel buatan ibu itu enaaaak banget, Layak jual lah (lho). Resep sudah dicatat, pembuatan mulai coba-coba dengan pengawasan ibu, dan terakhir packing sambal pecel ke wadah. Horeee saya bisa, tapi kalau sendiri bisa tidak ya? heheu. Pas udah ahli bisa ini jualan waktu di luar jawa. Lumayan tambah uang buat beli make up, biar kinclong dan makin disayang suami. Keahlian bertambah dan uang-pun bertambah.

416377_275dbac2-6b9a-42ef-a928-4e27b59349cf

Ngawi, 16 Juli 2017

Setelah mempelajari perjamuan dan persambel kacangan, saya bersiap pulang dan kembali packing. Yap tidak bisa lama-lama kerena suami besok sudah mulai dinas kembali.

“May, perut mas tidak enak”

Ya Rabbi, suamiku sepertinya masuk angin. Mungkin karena perjalan ke Ngawi sepenuhnya menjadi suami siaga (mijetin kaki, punggung, usap-usap) jadilah tidak tidur dan ditambah kena AC yang terlalu dingin.

Saat menjadi istri skill yang harus ditambah adalah ilmu pijat memijat dan kerokan. Saya juga pijat asal dan melihat bagaimana caranya jika ada tukang pijat melakukannya. Itupun harus dituntun sama suami diawal-awal,”Pakai uangnya jangan yang ini may, sakit.” lalu, “Pakai wadah may seperti lepek biar minyak  untuk kerokannya tidak tumpah-tumpah”.  Kalau sekarang? sudah lumayan lah…

Saya menyarankan suami untuk tidak ke Semarang hari ini, ditunda saja. Tapi beliau menolak. Jadilah sore kami melakukan perjalanan kembali.

Sesampainya di rumah, suami badannya demam. Saya buatkan teh hangat dan kembali memijitnya. Tanpa disadari, saya juga kecapekan hingga kaki saya bengkak. Kondisi hamil, perjalanan jauh, dan suami sakit. Lengkap sudah, nikmatnya. Alhamdulillahi ala kulihaal. Kemandirian sangat dibutuhkan olehku mas saat engkau tidak sesetrong biasanya.

Semarang, 17 Juli 2017

Setelah sholat subuh, badan ini terasa berat. Jika mengikuti kemauan diri untuk melanjutkan rebahan maka perut yang selanjutnya akan keroncongan. Semalaman suami menggigil kedidinginan sedang badannya panas. Jadilah suster dadakan. (Nah skill perawat juga kudu diasah ini)

Suami masih demam, segera kuambilkan kompres dan kubalurkan minyak kayu putih di perutnya. Karena ia mengeluh perutnya terasa dingin. Setelah kupastikan ia tertidur serta suhu tubuhnya menurun, aku tinggalkan untuk membeli sayuran. Tukang sayurnya lumayan terjangkau dengan berjalan. Biasanya saya ditemani suami saat berbelanja. Kali ini sendiri.

Sampai dirumah saya memasak, karena masak sayur bayam yang gampang kadarluarsa, jadilah saya bagi sayuran menjadi tiga bagian. Untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Lauknya untuk sarapan hanya saya gorengkan tempe, sedangkan makan siang dan malam saya ungkep ayam goreng.

Setelah jadi, saya segera membangunkan suami dan menyuapinya. Alhamdulillah, coba saya tidak bisa memasak, suami sakit, dan saya masih belum berani naik motor (pasca kecelakaan dan pernah keguguran pasca mengendarai motor) maka perut kami akan keroncongan dan suami makin sakit. Saya kudu seterong ini, meski kaki mulai terlihat makin bengkak. Sampai semua pekerjaan rumah selesai, saya kembali rebahan.

“Capek sayang?”

Tanya suami sembari mengecup kening, alhamdulillah suhu tubuhnya sudh normal. Entah mengapa saya langsung memeluknya. Saya takut jika suatu saat harus benar-benar sendiri tanpa bersamanya. Lalu saya tertidur dalam pelukannya. Bangun-bangun sudah jam 12.30 WIB (saya tidur 3 jam).

Suami masih tertidur, membangunkannya dan mengajaknya sholat dzuhur berjamaah (menyiapkan air hangat untuknya berwudhu). Setelah itu kembali masak. Alhamdulillah semoga skill masaknya bertambah jadi tidak bingung kalau jauh dari internet atau buku resep masakan.

Semarang, 18 Juli 2017

Sekilas melirik rajutan yang belum tersentuh semenjak pulang ke Ngawi. Padahal niatnya mau belajar dan menyelesaikannya. Tapi tak apalah, yang penting suami sudah lebih baik. Meski nafsu makannya masih belum baik.

Saya kembali berkutat dengan dapur (tidak menyangka seorang saya bisa berlama-lama dan sering di dapur). Ya Rabb, beras habis. Mana kalau beli beras harus ke pasar. Pasar ditempuh dengan kendaraan. Hmm…

“Mas, may ke Pasar ya?”, ijinku pada suamiku.

“Ya, mas antar.”

“Tapi mas baru mendingan”

“Cuma sebentar, nantikan bisa may pijit-pijit lagi. Sembuh deh”

Bicara tentang pasar, pertama kali ke pasar juga saya perlu pendampingan suami. Saya tidak pernah tawar menawar di pasar. Seringnya belanja di supermarket. hahaha. Tapi berkat beliau saya belajar belanja di pasar. Lumayan lebih hemat.

Kali ini masak cah kangkung dan gurame goreng. Beberapa hari tidak sempat mengambil fotonya.

Semarang, 19 Juli 2017

Setelah menjadi suster kini saya menjadi pasien. Yap kaki saya masih bengkak hingga akhirnya dipanggilkan tukang pijat dan istirahat seharian. Semoga besok dapat menjalani aktivitas kembali.

Alhamdulillah suami kembali masuk kerja. Setidaknya suster sudah berhasil meski kini menjadi pasien dan kembali bergantung sama suami.

Insya Allah besok sudah mulai belajar merajut lagi (semoga sudah fit). Yeyyyy

Sekian curcolan calon ibu belajar kemandirian part 2. Sampai jumpa dicerita selanjutnya.

#MargieAgamiHaq #Day3-7 #GameLevel2 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Berlatih Kemandirian #Part1

“Mas, kali ini tugas kuliahnya lumayan berat”, kataku pada suami.

“Apa may?”

“Melatih Kemandirian”.

Beliau hanya senyum singkat dan melanjutkan membaca berita sedangkan aku melanjutkan packing. Tumpukan baju untuk dibawa pulang sudah siap. Tas ungu kesayangan yang biasa menemani mudik pun sudah siap diisi oleh tumpukan baju kami. Besok kami akan pulang ke Ngawi, melaksanakan birrul walidain.

Sejak kami pindah ke jawa, memang sudah diniatkan akan sering pulang. Kalau bahasa jawanya mumpung di Jawa. Entah tahun depan masih penempatan dinas di Jawa atau sudah kembali merantau ke luar jawa.

Ngawi adalah tempat kelahiran suamiku, ia dibesarkan disana. Alhamdulillah bapak ibu masih sehat, sehingga ini kesempatan kami untuk birul walidain. Bagiku bapak dan ibu bukannya mertua tapi sudah seperti orangtua kandung. Kasih sayang mereka padaku begitu banyak, meski aku hanya menantu.

“Mas, tugas kali ini untuk berdua”

“Maksudnya apa may?”

“Tugas untuk melatih kemandirian pasangan, yah menyiapkan kalau pasangannya tidak ada atau meninggal”

“Ya salam, nda mau ah seperti itu. Semoga Allah menganugerahi kita umur yang tidak berbeda jauh di dunia. Udah kamu aja yang mengerjakan tugasnya, biar manjanya ilang. wkwkwkwk”

Jiah, suami malah tidak mau diajak mengerjakan tugas. Baiklah, sedikit saya bercerita kenapa suami bilang saya manja. hehe

Memang saya dididik dalam lingkungan yang serba tersedia. Bangun tidur tugas saya hanya mandi, baju dan perlengkapan sekolah sudah disiapkan mama. Sampai ke meja tinggal makan, karena di piring sudah terhidang semua makanan (tinggal suap ke mulut), memilih mau minum susu atau teh hangat. Berangkat sekolah jika sedang tidak mood akan diantar. Bahkan saat daftar ulang kuliah, diantar plus ditunggu papa sampai selesai. hehehe

Akibatnya setelah orangtua pamit karena urusan kuliah (sudah liah gedung, kos, dan segala fasilitas kuliah) beres, saya mengalami masa jetlag. Seminggu menangis merasa kesepian. Setiap hari ditelp tiga kali sehari sama orangtua. Manja ya?

Dunia kampus mengubahku, keadaan yang membuatku harus mandiri. Lambat laun aku menjadi anak yang menurutku cukup mandiri. Makan mencari sendiri dan semua kebutuhan disiapkan sendiri. Semakin bertambah semester semakin jarang pulang karena banyak organisasi yang ku ikuti. Hingga tahap menjadi wisudawati, kembali diperlakukan seperti putri raja, waktu masuk dan keluar mobil dibukakan pintunya dan digandeng sampai ke barisan wisudawan. hohoho.

Nah masa kerja juga membuatku lebih mandiri, termasuk mengatur keuangan. Biasanya di ATM mengucur uang dan memakai tanpa memikirkan tanggal, sekarang harus bisa mengaturnya. Uang gaji harus pas sebulan, syukur-syukur bisa ditabung. Malu donk sudah kerja masih minta orangtua.

Sampai tiba masa menikah, ketika proposal pernikahan ada di tangan. Seketika merasa tertampar, “Hey, kamu belum bisa masak gi”. Jadilah H-60 hari belajar masak. Meski rasanya aneh dilidah, setidaknya sudah tidak kaku lagi memegang susuk atau sudah paham membedakan merica dan ketumbar. Ya, hidupku banyak bergantung pada orangtua, karena memang sedari kecil sudah dididik demikian.

Masa menikah memang nano-nano, perkenalan kami justru terjadi saat malam setelah menikah. Ya sebelumnya kami belum saling mengenal. Allah memberikan pendamping yang luar biasa mandiri. Laki-laki yang sudah biasa ke pasar karena mengantar ibunya, bisa memasak karena biasa membantu ibunya, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya sepaket dengan kerapiannya. Suami tiga bersaudara dan semuanya laki-laki. Ibunya mendidiknya dengan sangat baik, alhamdulillah sangat membantu. hehehe

So, kalau kembali ke tugas kuliah. Sepertinya ketika saya harus meninggal duluan, suami sudah bisa melakukan semua tugas ibu sendiri. Berbeda dengan saya, suami yang biasa memperlakukan ibunya dengan baik (membantu semua pekerjaan ibunya) pun memperlakukan saya demikian. Saya kan jadi enak, eh jadi bergantung.

Untuk melatih kemandirian, saya ingin mencoba skill merajut (sudah saya post tanggal 14 Juli 2017 di instagram @e-giie) dan memperdalam ilmu ke-rumahtangga-an (halah apa ini). Jadi, pulang ke Ngawi saya jadikan bahan belajar kemandirian mengurus rumah, karena kalau pulang ke rumah orangtua saya maka tidak boleh menyentuh pekerjaan rumah sedikitpun. Alasannya saya sedang hamil, nanti capek. hehehe.

Bersambung…

#MargieAgamiHaq #Day2 #GameLevel2 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

 

Aliran Rasa (Masih Tentang Komunikasi)

Sayangnya aku padamu mas,

Seperti Hawa yang memohon pada allah untuk kembali dipertemukan

Seperti Khadijah yang memberikan segalanya untuk Rasulullah

Dan seperti Fatimah yang rela tangannya melepuh demi Ali

Seperti itulah aliran rasa untukmu

Bukan hanya sayang

Tetapi cinta.

Kekuatan cinta luar biasa, karena cinta mampu mengubah seseorang menjadi layaknya pujangga, yang mampu merangkai kata-kata indah dan romantis, untuk pasangan yang dicintainya.

Dalam berumah tangga, komunikasi merupakan akar, jawaban, dan juga solusi setiap permasalahan. Komunikasi yang baik harus kita bangun sejak awal pernikahan kita. Tanpa adanya komunikasi yang baik, hal ini dapat mengancam biduk bahtera berlayarnya rumah tangga kita. Bagaimana suami istri mampu mengomunikasikan dengan baik permasalahan ataupun perasaan yang dirasakan oleh pasangan.

Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi yang produktif antara suami istri. Sering terjadi putusnya komunikasi diantara pasangan suami istri yang disebabkan oleh banyak faktor, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih, saling berjauhan dan lain sebagainya. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, Kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.

Dalam mengikuti kelas bunda sayang, saya dilatih untuk berkomunikasi produkstif selama 10 hari. Alhamdulillah tantangan terlaksana dengan baik meski tantangan selanjutnya lebih berat, yaitu istiqomah.

#AliranRasa #Level1 #Tantangan10hari #KomunikasiProduktif #Kuliahbunsayiip

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part10

Finally, ini hari terakhir dalam tantangan 10 hari. Meski tertatih-tatih dalam upload karena keterbatasan sarana (laptop.red) sehingga terpaksa mencatat dulu baru upload kemudian. Sering rapel lah kalau upload, meski tantangan dilaksanakan tiap hari.

Setelah dapat materi komunikasi produktìf dari kuliah Bunda Sayang IIP serasa menemukan sesuatu yang selama ini seperti ada yang kurang dan menjadi klik. Apalagi tantangannya adalah 10 hari posting penerapan komunikasi produktif. Memang ilmu itu akan lebih teruji jika sudah di amalkan.

Saya mencoba menaklukan tantangan selama 10 hari, setelah mendapat materi dari kuliah bunda sayang. Kali ini tantangan komunikasi terhadap suami karena untuk anak masih dalam kandungan. Untuk komunikasi terhadap anak-anak sebenarnya ada beberapa cerita tentang dunia anak di artikel saya yang lain. Hehe, semoga pembaca tidak malas mengubek-ubek isi blog saya (Eciee sok terkenal dan sok bagus saja tulisannya)

Dalam menaklukan tantangan ini, suami sangat membantu. Alhamdulillah tantangan ini seolah menjadi salah satu penunjuk arah kemana dan baiknya seperti apa saya dalam berkomunikasi dengan pasangan. PR yang menumpuk selama ini adalah komunikasi yang produktif antara suami istri. Kelak ketika anak kami lahir, sudah terbiasa komunikasi produktif ke suami sehingga tidak akan sulit berkomunikasi dalam mengasuh dan pendidikan ke anak karena ayah bundanya kompak.

Dalam menjalankan tantangan 10 hari ini, saya mengalami beberapakomunikasi yang tidak produktif seperti:

  1. Saat sedang mabuk karena hamil muda
  2. Saat suami lebih asyik dengan dunianya, merasa dicuekin. Padahal mah perasaan saya saja.

PR saya adalah istiqomah dan tahan banting, terutama menghilangkan perasaan yang terkadang tak semestinya muncul.

Kalau anda bagaimana?

#level1 #day10 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

 

Semarang, 10 Juni 2017

Margie Agami Haq

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part9

images

Rutinitas malam untukku dan suami adalah  selalu berusaha menyempatkan diri untuk melakukan ritual “obrolan ringan”. Topik yang diobrolkan sangat bervariasi. Meski saya yang paling banyak mengajukan pertanyaan dan saya pula yang paling banyak bercerita. Yah memang sudah menjadi sunatullah wanita dikaruniai anugerah “pandai berbicara”.

Pertanyaan yang kulontarkan pun lebih banyak bersifat interogasi. Ya, interogasi, persis seperti detektif yang sedang memeriksa tersangka,
“Tadi di kantor bagaimana?”
“Sibuk hari ini?”
Dan jawab seadanya, hmm… gemes…

Padahal gaya interogasi cenderung mengabaikan pemikiran, kehendak dan perasaan suami. Saya paham jika laki-laki lebih irit berbicara, makannya saya harus pandai memainkan momen hingga suami mau berbagi ceritanya. Saya harus sabar menanti, ketika terlihat raut wajah yang kurang baik. Harus pandai merayu hatinya agar mau bercerita.

Usia pernikahan kami satu tahun dan masih banyak waktu untuk saya mempelajari serta mencoba memahami bagaimana mengahadapi suami yang sedang berduka. Karena suami akan cenderung membagi rasa sukanya, ya.. mereka ingin menjaga izzahnya. Dan begitulah kaum adam menyelesaikan setiap masalahnya.

 

PR terbesar untuk saya dalam berkomunikasi dengan suami adalah menggunakan kode dan berharap suami akan tahu. Padahal belum tentu. So, jangan ada kode-kodean di antara suami istri. Kode-kodean bikin hidupmu tambah runyam. Kalau lagi ingin sesuatu, maka langsung bilang saja. Katakan dengan jelas agar mudah dimengerti oleh suami.

Saat ada konflik, saya biasanya meminta maaf namun suami tidak merespon dengan baik. Alhasil saya jadi menyesal minta maaf dan bertambah kekesalan saya padanya. Biasanya konflik belum terselesaikan karena terpotong hal lain, dan muncul konflik yang lain sehingga menyebabkan tumpukan emosi. Jadi, sebaiknya selesaikan satu masalah dengan cara yang baik setelah itu berbaikan dan tidak ada lagi pertengkaran. ah, indahnya.

Biarlah sesekali konflik untuk menjadi bumbu penyedap dalam rumah tangga. Asal suami istri berkomitmen menyelesaikan konflik dan mengambil pelajaran berharga. Setelahnya harus lebih kokoh dalam membina rumah tangga. Seperti seseorang yang lulus ujian, maka ia akan naik kelas dan suatu saat mendapat soal yang sama atau lebih mudah dapat dilalui dengan mudah. Begitu seterusnya. Hal yang diperlukan disini adalah bergandeng tangan dalam meraih ridhoNya.

Insya Allah kita bisa mas, karena tanganmu masih menggenggam tanganku erat. Menggandengku dan menuntunku meraih ridhoNya.

#level1 #day9 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Semarang, 9 Juni 2017

Margie Agami Haq

 

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part8

pertengkaran-dalam-rumah-tangga

Tantangan kali ini (hari ke-8) ingin merenung dan mengambil ibrah dari cerita lingkungan di sekitar rumah. Ceritanya ada tetangga yang bertengkar hingga sampai tetangga tahu. Parahnya pertengkaran itu terjadi di depan anaknya.

Bertengkar dengan pasangan didepan anak? Hmm, jangan sampai deh. Membayangkan wajah si kecil yang ketakutan dan khawatir akan menimbulkan trauma tersendiri baginya. Bahkan yang seharusnya rumah menjadi surga, akan terasa neraka bagi semua anggota keluarga. Sakinah mawaddah warahmah hanya tinggal impian saja, tanpa bisa diwujudkan.

Bertengkar dengan pasangan tidak baik, apalagi di depan anak bukanlah sesuatu yang bijak. Tidak satu pun anak di dunia, berapapun usia mereka, tidak suka melihat orang tua bertengkar. Inilah alasan jangan bertengkar depan anak. Ingatlah gie, maka belajar dari sekarang. Belajar tidak bertengkar dengan pasangan. Kelak ketika sudah merasa gemas, maka kita dapat mengerem pertengkaran termasuk di depan anak-anak.

Belajar mengelola konflik dan pertengkaran dengan cara yang baik (bertengkar yang elegan *halahhh apa si). Jika kita mampu mengelola konflik, maka akan membawa pelajaran berharga bukan saja bagi pasangan tersebut tetapi juga bagi anak-anaknya. Duduk berdua (suami dan istri) dalam suasana yang santai dan tenang, tanpa gangguan apapun, bicarakan permasalahan yang menjadi konflik dan satukan frekuensi serta cara pandang. Jangan lupa dengan penyampaian pesan secara baik dan jelas dengan pilihan kata-kata yang tepat. Nah dari komunikasi yang produktif suami istri, maka akan muncul komunikasi produktif yang lainnya. Kelak mengasuh dan mendidik anakpun menjadi lebih kompak.

Tahap selanjutnya, komunikasi yang terjadi antara orangtua dengan anaknya. Saat komunikasi dengan anggota keluarga (ayah-ibu-anak) terjalin dengan baik, dimana kegiatan tersebut menghasilkan manfaat bagi berbagai pihak, maka inilah yang dimaksud dengan komunikasi produktif. Jika komunikasi produktif dapat berjalan dalam keluarga, maka insyaAllah akan memudahkan dalam mencapai sakinah mawaddah warahmah. Baiti jannatipun dapat diraih. Ah, bahagianya…

#level1 #day8 #tantangan10hari #komunikasi produktif #kuliahbunsayiip

 

Semarang, 8 Juni 2017

Margie Agami Haq

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part7

Biasanya hal yang menjadi salah satu alasan “mandek” nya komunikasi dalam pernikahan adalah suami dan istri yang sama-sama menunggu salah satu diantaranya “duluan” minta maaf, duluan bilang terima kasih, duluan inisiatif ngajak bicara. Salah satu atau keduanya merasa bahwa “seharusnya” pasangannya lah yang memulai. Padahal pernikahan itu sendiri adalah tugas bersama, bukan tugas masing-masing, keduanya perlu bekerja sama dan mempertanggungjawabkan itu semua.

Sehingga yang perlu dilakukan adalah merendahkan ego dan mencoba “memulai” tanpa harus khawatir bagaimana respon pasangan. Saat ego meninggi, ingat bahwa derajat kita di hadapan Allah tak lantas menjadi rendah. Apalagi ada niat baik untuk semakin harmonis dengan pasangan. Nah itu kesimpulan tentang tantangan hari ke-6 yang ceritanya dapat dilihat di Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part 6

Saatny kembali melanjutkan tantangan hari ke 7

Hari ke-7

Setelah kemarin mencoba melawan ego, sekarang harus terus membiasakan diri agar komunikasi produktif dapat dicapai oleh suami istri. Hari ini aku kembali tidak berpuasa karena rasa lemas melanda. Seharian hanya dapat berbaring. Komunikasipun hanya seadanya. Suami merawat dengan penuh rasa cinta, kalau ingat kemarin sudah sempat kesal padanya membuatku menyesal. Harusnya kondisi seperti menjadi pengingat di kala kesal melanda. Sekali lagi, tatapan matanya membuatku jatuh cinta. Walau sepertinya jarang berkata,”Aku mencintaimu”. Namun tatapan mata itu seolah berkata, aku mencintaimu.

#level1 #day7 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Semarang, 7 Juni 2017

Margie Agami Haq

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part 6

Alhamdulilah, sudah memasuki hari ke-6 dalam rangka pembiasaan komunikasi yang efektif suami istri. Cerita sebelumnya dapat dibaca di Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part5. Kadangkala, karena lelah atau mabuk hamil muda membuatku tidak mampu mengendalikan diri, sehingga keluar kata-kata yang tidak seharusnya. Hal ini tentu sangat tidak baik dan bisa menimbulkan pertengkaran berkelanjutan. Lebih-lebih jika sifat historisnya wanita yang suka mengungkit-ungkit kesalahan.

Kalau seperti itu siapa yang rugi? hehe maka, jauhilah keinginan untuk berbicara yang tidak baik, terutama terhadap pasangan sendiri. Jangan sampai dengan orang lain, rekan kerja kita bisa berbicara baik. Tetapi terhadap suami, justru tidak diperhatikan, na’udzubillah.

Yuk lanjutkan pembiasaan komunikasi yang baik dan produktif, ini cerita hari ke-6

Hari ke-6

Hari ini saya periksa HB darah di Puskesmas dengan suami. Menunggu lumayan lama sehingga membuat saya mulai resah dan punggung mulai sakit. Saat kesal melanda dan melirik suami yang sedari tadi memegang hp terus membuat saya makin kesal. Inginnya diajak berbicara. Nah kalau sudah terpengaruh emosi seperti ini kata-kata tidak terkontrol, sehingga saya usahakan untuk diam.

Saat semuanya selesai, saya diantar pulang suami. Karena kondisi HB rendah membuat saya tidak boleh puasa, saya diminta suami membeli makanan untuk membatalkan puasa. Saya diminta memilih, karena masih kesal saya hanya asal memilih.

Suami seperti membaca gerak-gerik saya yang kesal segera mengantarkan saya pulang. Selepas sampai rumah, beliau berpamitan, mencium kening saya, dan berkata, “Kalau sudah tidak marah,whatsapp ya”

Setelah beliau berlalu, saya menyesal kenapa marah dan kesal ya. Padahal beliau rela ijin dari kantor dan berpanas-panasan demi saya. Mungkin lihat Hp karena urusan kantor yang harus diurus karena fisiknya ada bersama saya.

Jam pulang kantorpun tiba dan beliau sampai rumah dengan langsung menyapa,”Masih mau marah?”

“Nda”

Hehe, saya biarkan beliau beristirahat sejenak dan menjelaskan semuanya apa yang saya rasakan. Clear and Clarify, hufpth… Dan beliau lagi-lagi tertawa, sambil bilang “Besok-besok kalau mau sibuk sendiri ijin dulu dah”

Saya pun ikut tertawa.. Hormon yang naik turun saat hamil memang seru…*batin saya

Kisah ini membuat saya semakin ingin biasakan diri berbicara dengan hati. Ingatlah, pasangan kita adalah anugerah-Nya. Bersamanya kita akan bahagia hingga ke surga atau sebaliknya.

#level1 #Day6 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Semarang, 6 Juni 2017

Margie Agami Haq

 

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part5

Komunikasi dianggap berhasil apabila pesan yang diinginkan sampai dengan tepat kepada pasangan, dan menimbulkan suasana menyenangkan. Bukan komunikasi yang membuat takut, tegang, sehingga pesan-pesan inti tidak bisa sampai dengan tepat kepada pasangan. Bukan pula komunikasi formalitas, sekedar menyampaikan pesan tanpa mempertimbangkan kenyamanan pasangan. Semestinyalah suami dan isteri berada dalam suasana yang santai, nyaman, tenang dan senang saat melakukan komunikasi. (Cahyadi Takariawan)

Nah, sudahkah kita seperti apa yang pak Cahyadi sampaikan? Semoga sudah. Suami saya tipe yang akan banyak bercerita jika sudah nyaman dengan seseorang. Dan kami menikah tanpa mengenal sebelumnya, tantangan besar untukku bukan? Alhamdulillah selama setahun pernikahan kami, banyak cerita yang beliau sampaikan. Yess, berarti beliau sudah nyaman dengan saya. (Semoga saya tidak ke-pedean).

Lah malah kemana-mana, yuk lanjut dalam tantangan 10 hari, ini sudah hari ke 5. Alhamdulillah sudah separuh perjalanan. Cerita sebelumnya dapat dilihat di Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part4

Hari Kelima

Hari ini saya tidak berpuasa dan masih dalam kondisi mabuk, karena khawatir kondisi janin , akhirnya kami berkunjung ke bidan dekat rumah. Hasilnya baik dan diminta cek Hb. Jika Hb nya normal boleh kembali berpuasa.

Terkadang kekhawatiran saya yang berlebih membuat saya paranoid terhadap kondisi kandungan saya. Mungkin pengalaman kuret yang membuat saya demikian. Hal ini sering menjadi perdebatan kami. Suami sepertinya gemas melihat sikap saya.

Ingin saya sampaikan semua apa yang saya rasakan tanpa harus berkata banyak. Semisal pagi ini, karena kondisi saya yang nge-drop membuat pagi ini diawali dengan berbaring tanpa membantu persiapan suami. Entah kenapa saya hanya bilang,”Sebelum berangkat aku mau dipeluk”.

Pesan saya tersampaikan, suami berbisik ketika memeluk,”Jangan khawatir, sore ini kita ke bidan”. Wah, tanpa harus banyak menjelaskan perasaan dan linangan air mata. Ternyata ada saatnya kontak mata, bahasa tubuh, intonasi, dan hanya sedikit berbicara mebuat komunikasi lebih produktif. Dan tantangan komunikasi kali ini terlewati. Alhamdulillah…

Mau mencoba?

#level1 #day5 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Semarang, 5 Juni 2017

Margie Agami Haq

Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part4

Masih dalam tantangan 10 hari berkomunikasi produktif. Kenapa komunikasi dijadikan sebagai tantangan dalam berumah tangga? Hal ini dikarenakan banyak permasalahan kerumahtanggaan muncul akibat tidak adanya komunikasi produktif antara suami dengan isteri. Banyak hal yang didiamkan tidak dibicarakan, sehingga menggumpal menjadi permasalahan yang semakin membesar dan sulit diselesaikan.

Nah yuk demi terciptanya keharmonisan dalam rumah tangga, mari kita taklukan tantangan ini. Alhamdulillah ini sudah hari ke 4. Untuk cerita tantangan hari sebelumnya, dapat dilihat di Berkreasi Dalam Membangun Komunikasi Suami Istri #Part3.

Hari ke 4

Hari ini semua berjalan lancar, hikmah bulan ramadhan yang membuat kami semua menahan hawa nafsu. Termasuk nafsu cerewetku, hehe. Hari ini puasa terberatku selama hampir sepekan puasa. Rasa lemas melanda dan mual tiada tara. Hingga waktu berbuka tiba, kami berbuka puasa dengan teh hangat dan kurma. Setelah sholat, dilanjutkan makan, dan bersiap sholat Isya dan tarawih.

Entah mengapa rasa mual begitu hebat hingga aku muntah di kamar. Langsung berlari menuju kamar mandi. Semua makanan sukses keluar dari kerongkonganku. Karena harus membersihkan lantai, jadilah kami telat sholat berjamaah di masjid.

Saya pikir suami sudah duluan berangkat, ternyata ia masih menungguku. Lalu menghampiri dan mengusap punggungku, “Sudah lega?”. Saya hanya mengangguk. “Kita sholat di rumah saja, sekalian tarawih ya. Kuat yang?”. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Setahuku suami orang yang paling rajin sholat berjamaah di masjid. Bahkan syarat untuk mencari rumahpun harus dekat dengan masjid. Rasanya sedikit bersalah.

Nb, karena hari ini mabuk dan lemas. Allah memudahkan dengan lancarnya komunikasi kami. Entah karena saya yang juga puasa cerewet, atau suami tidak tega melihat kondisi. Allah memang dekat dan tahu apa yang dibutuhkan umatNya.

#level1 #day4 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Semarang, 4 Juni 2017

Margie Agami Haq